Profesor John McCloskey Akan ke Padang Lanjutkan Penelitian

Profesor John McCloskey, ahli yang akhir-akhir ini banyak disebut publik karena pernyataannya tentang peringatan potensi gempa besar dan tsunami di Sumatera Barat, berencana akan berkunjung ke Kota Padang dalam waktu dekat.

“Rencananya Profesor John McCloskey akan ke Padang Februari atau Maret depan,” kata Patra Rina Dewi, Direktur Kogami (Komunitas Siaga Tsunami) kepada PadangKini.com.

Kemungkinan agenda McCloskey ke Padang, kata Patra, untuk menindaklanjuti (follow up) kajiannya tentang ancaman bahaya gempa dan tsunami di Kota Padang. Ia kemungkinan akan melihat kondisi di Sumatera Barat untuk menentukan subjek penelitian berikutnya.

“Di Padang nanti rencananya Profesor John McCloskey juga akan menolong Kogami membuat animasi terjadinya gempa, tsunami, dan bagaimana memberikan pemahaman kepada masyarakat,” ujarnya.

Sebelumnya Profesor dari University of Ulster, Irlandia itu, pernah ke Padang melakukan penelitian tentang kajian tata bahaya gempa dan tsunami. Selain bercermaah di DPRD Sumatera Barat, McCloskey juga ‘didaulat’ Kogami sebagai narasumber dalam training dan kegiatan sosial menghadapi bahaya gempa da tsunami.

Profesor John McCloskey merupakan ahli geofisika. Berbeda dengan ahli geologi yang memiliki keahlian tentang komposisi, struktur, dan sejarah bumi, ahli geofisika adalah ahli tentang sifat-sifat alami bumi dan gejala-gejalanya, termasuk bidang seismologi (kegempaan).

“Ahli geofisika itu sama dengan dokter umum di kedokteran, sedangkan ahli geologi sama dengan dokter spesialis, ahli geofisika itu penelitiannya lebih kepada peramalan keadaan dan sumber ancaman, kalau di Padang yang juga di bidang geofisika adalah Pak Badrul Mustafa di Universitas Andalas,” kata Patra.

John McCloskey
John McCloskey memperoleh BSc dalam bidang Geologi Fisika dari Queen’s University Belfast pada 1980 dan PGCE Physics (Chemistry) pada 1980. Ia kemudian mengabdikan diri sebagai pengajar di Queen’s University lebih 10 tahun.

Meraih D. Phil bidang Geofisika dari University of Ulster pada 1993. Tahun yang sama ia dianugerahi Geofisika Eropa Publikasi Society Award untuk makalah tentang fisika dan gempa bumi.

“Selama itu (belajar hingga meraih gelar D. Phil pada 1993-red ) saya menjadi tertarik mendalami proses gempa bumi dan menerapkan ide-ide serta teori-teori fisika untuk memahaminya,” katanya seperti dikutip situs resmi University of Ulster, http://news.ulster.ac.uk/ .
Situs ini menyebutkan, keahlian John McCloskey telah didemonstrasikan secara grafis Maret 2005 bersama timnya melalui prediksi gempa besar di wilayah Sumatera, Samudera Hindia 10 hari sebelum gempa menghantam Nias.

“Peringatan yang disampaikan pasca Tsunami 2004 (Aceh-red), menerima liputan media global,” tulis situs itu.

Sementara, Patra Rina Dewi mengatakan, ramalan tentang ancaman gempa bumi dan tsunami yang disampaikan sejumlah ahli gempa dunia, termasuk John McCloskey dan Danny Hilman Natawidjaya (LIPI) melalui Jurnal “Nature Geoscience” yang dimuat 17 Januari 2010 bukan peringatan baru.

“Kerry Sieh dan Danny Hilman sudah jauh hari memberikan peringatan, LIPI juga menyampaikan peringatan beberapa waktu setelah gempa 30 September 2009, cuma waktu itu banyak penolakan dengan informasi itu, mungkin karena waktunya kurang tepat,” kata Patra.

Patra berharap hasil penelitian para ahli yang berkompeten di bidangnya disikapi dengan tindakan nyata.

Pusat pemerintahan Kota Padang dipastikan pindah dari sekitar Pasar Raya ke Air Pacah, kawasan By-Pass, Padang.

Wakil Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah mengatakan, rencana pemindahan pusat pemerintahan Kota Padang sebelumnya sudah ditetapkan melalui Peraturan Daerah (Perda) No. 10/2005 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Padang 2004-2013.

“Pemindahan secara hukum tidak ada masalah, sekarang moment untuk mewujudkannya karena lebih 60 persen gedung kantor pemerintahan rusak berat akibat gempa 30 September 2009,” kata Mahyeldi.

Namun untuk mewujudkan pemindahan, kata Mahyeldi, tidak mudah karena terbatasnya anggaran. Dalam APBD Kota Padang 2010 baru disediakan dana Rp23 miliar untuk biaya pembebasan lahan lokasi perkantoran.

“Itu biaya pembebasan tambahan lahan, sebab lahan yang sudah dimiliki seluas 27 hektare masih belum memadai,” ujarnya.

Sedangkan biaya pembangunan gedung pemerintahan yang baru belum dianggarkan dalam APBD 2010. Namun pada 2010 akan dilakukan penetapan lokasi pemindahan pusat pemerintahan dan perencanaan detil atau pembuatan Master Plan pusat pemerintahan di Aie Pacah.

Mahyeldi berharap pada 2011 gedung-gedung pemerintahan yang baru di Aie Pacah sudah mulai dibangun. Pembangunan bisa lebih cepat jika pemerintah pusat bisa mengalokasikan anggaran melalui APBN Perubahan.

“Kita tidak bisa mengalokasikan biaya pembangunan kantor baru di APBD 2010 karena dana kita yang minim terserap untuk membiayai pembangunan pasar terlebih dulu sebagai prioritas, bahkan biaya SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah-red) terpaksa dikurangi untuk menunjang biaya pembangunan pasar,” katanya.

Pembangunan Pasar Raya Padang dianggarkan melalui APBD Kota Padang 2010 sebesar Rp59 miliar. Itu dana pendamping anggaran APBN yang disetujui pusat Rp237 miliar.

“Kami berharap 2011 banyak dana bantuan yang masuk, terutama dari pusat untuk pembangunan kembali gedung-gedung pemerintahan, jadi kita sudah bisa memulai pembangunan di Aie Pacah,” katanya.

Operasional pemerintah Kota Padang terganggu akibat rusak beratnya 60 persen gedung pemerintahan, termasuk gedung baru Balaikota di Jalan M. Yamin akibat gempa 30 September 2009.

Sebagian kantor dipindahkan ke bekas Terminal Bengkuang di Aie Pacah. Sebagian lain dipindahkan ke rumah kontrakan.

Kondisi kantor yang rusak ditambah potensi ancaman gempa besar dan tsunami mendorong tim ahli yang tergabung dalam Badan Pendamping Rekonstruksi dan Rehabilitasi (BPRR) Kota Padang menyarankan agar pusat pemerintahan dipindahkan ke Aie Pacah sesuai perda yang telah disahkan DPRD. (syof)

Iklan