Petani Sukses bersama Internet

Suhar Meraih Sukses Setelah Kenal “Mouse” ISTIMEWA Berkat Internet – Suhar (29) asal Desa Manu’an, Bojonegoro, Jawa Timur, adalah contoh petani yang meraih sukses berkat komputer dan internet. SUHAR bukanlah petani biasa. Memang pemuda berusia 29 tahun itu sepintas tidak terlihat berbeda dibanding warga Desa Manu’an, Bojonegoro, Jawa Timur, lainnya. Penampilan para pekerja keras yang kerap diterpa panas terik yang berlangsung hampir sepanjang tahun di wilayah itu.

Yang tampak berbeda adalah wajah Suhar lebih berseri-seri. Hasil panen kacang tanah dari lahan seluas lima hektare, ternyata jauh lebih banyak dibanding sebelumnya. Itu berkat perubahan yang dilakukan Suhar dengan mengganti tanaman kacang varietas biji tiga ke biji dua.

Penggantian itu dilakukan setelah dia mendapat informasi melalui internet bahwa jenis kacang biji dua lah yang sedang diminati pasar. Tak hanya itu, Suhar juga memasarkan hasil pertaniannya melalui jaringan pemasaran di dunia maya itu. Bagi dia, internet telah menjadi bagian kegiatan bercocok tanam, sama halnya dengan cangkul atau bajak. “Berkat internet saya kini bisa tahu tanaman apa yang cocok dengan tanah garapan dan laku dijual saat ini di pasar,” ucar Suhar saat ditemui belum lama ini. Padahal awalnya, jangankan mengenal internet, memegang mouse, alat pemandu kursor pada komputer itu saja, sudah membuat Suhar bingung.

Maklum, produk hasil teknologi modern itu merupakan barang langka di desanya. Namun kebingungan itu kini musnah berkat pelatihan penggunaan komputer yang dilakukan oleh Pusat Pelatihan Teknologi Masyarakat Tani (Community Training and Learning Center/CTLC) dari Microsoft Indonesia. Program yang dikoordinasi oleh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Garis Tepi di Desa Panjunan, Kecamantan Kalitidu, Bojonegoro, Jatim itu, bertujuan membuka akses informasi lebih luas untuk petani dan komunitasnya. Berkat kegiatan yang berlangsung sejak awal September tahun 2004 lalu, Suhar dan sejumlah petani di wilayah itu dapat mengenal pengoperasian komputer, bahkan sudah bisa berselancar di internet.

Padahal, menurut Ketua PKBM Garis Tepi Imam Suhandak, awalnya program pelatihan ini cukup “menakutkan” para petani. Ketakutan itu terutama karena umumnya para petani belum pernah bersentuhan dengan teknologi komputer. “Mendengar kata komputer saja mereka sepertinya alergi dan takut. Maklum, selain pendidikannya masih rendah, barang seperti ini dalam pikiran mereka merupakan hal baru dan pastinya mahal, sehingga takut jangan sampai rusak dan harus mengganti. Tetapi kami berusaha memperkenalkan hal ini agar mereka tidak gaptek (gagap teknologi, Red),” ungkap Imam. Berkat pendekatan yang telaten dari Imam dan kawan-kawan, perlahan pengetahuan tentang teknologi tersebut mulai diterima petani.

Mereka dilatih menggunakan sistem operasi, aplikasi, cara mengakses internet, mengirim surat elektronik, hingga cara membuat profil di internet. Semua diberikan secara gratis kepada warga masyarakat petani yang memang berminat. Awalnya hanya 28 orang yang ikut serta. Tetapi setelah Suhar membuktikan hasil nyata dari pengetahuan yang diperoleh lewat mengoperasikan “tikus” komputer itu, maka program itu pun menjadi populer di kabupaten yang terkenal dengan oleh-oleh ledre itu. Kini program CTLC di Bojonegoro telah diikuti sekitar 166 orang, tidak saja dari kalangan petani tetapi juga pemuda putus sekolah dan kaum wanita. Pusat pelatihan berbasis masyarakat ini merupakan realisasi program bakti sosial yang digelar Microsoft di Indonesia sejak 2003 lalu. Hingga kini program CTLC itu telah hadir di 28 lokasi di seluruh Indonesia dan dititikberatkan pada kalangan petani. Program CTLC lainnya adalah mendirikan pusat pelatihan teknologi informasi di daerah-daerah yang selama ini memiliki keterbatasan akses informasi.

Menurut Marketing Communication PT Microsoft Indonesia Cynthia Iskandar, program ini merupakan salah satu solusi bagi masyarakat terpencil untuk mengakses informasi secara online. Mereka juga dapat menjadikan CTLC sebagai pusat pembelajaran berkesinambungan untuk meningkatkan daya saing dan nilai tambah kelompoknya. Saat ini 94 persen masyarakat dunia masih menghadapi hambatan mengakses informasi secara online. Di Indonesia, populasi pengguna komputer pribadi (personal computer/PC) tidak sampai 2 persen. Ini berarti hanya empat juta empat ratus ribu orang yang memiliki kesempatan untuk mengakses informasi secara online.

Padahal, di era ekonomi global ini, internet telah menjadi sarana vital untuk berkomunikasi dan berkolaborasi dalam berbisnis, seperti halnya telepon. Dengan program ini diharapkan lebih dari 50 persen penduduk Indonesia mendapat akses informasi pada tahun 2015. Dengan demikian akan ada Suhar-Suhar lain yang tersenyum dan meraih sukses berkat penggunaan teknologi informasi. (W-10)

Iklan